Anomali Indah yang Melegenda

Bersenang-senang dahulu, bersenang-senang kemudian. karena hidup gak perlu dibuat susah
Recent Tweets @Alijahh
Dengan menyadari bahwa selamanya itu entah berapa lama tergantung dirimu, bahwa setiap manusia punya peluang yang sama untuk ingkar janji, bahwa sejati itu tak berarti abadi.
Ya. kita bisa mengikhlaskan sebelum kehilangan.
Alter ego

kickstarter:

How I Became a One Man Intelligence Agency by Eliot Higgins, creator of open source citizen journalism project Bellingcat, which is in the news today.

Inspiring

(via emergentfutures)

  • Di kursi lorong rumah sakit lavalette, di depan laboratorium, duduk pria bertato dengan anaknya yang kira-kira umurnya baru 3 tahun. Konon sang anak ini hendak diambil sampel darahnya.
  • Anak : Pa, papa pernah diambil darahnya nggak?
  • Papa gaul : Pernah *cool bgt
  • Anak : sakit gak?
  • Papa gaul : lumayan *masih cool
  • Anak : kira2 sakitan mana sama kuku lepas?
  • Papa gaul : kuku lepas lah, ambil darah sakitnya cm bentar kok, jadi ambil darah gak ini kakak?
  • Anak : jadi lah pa, kakak kan gak cemen.
  • Mendengar percakapan mereka berdua, saya tertawa kecil. Daripada membohongi anaknya dengan tipuan klasik, "disuntik itu rasanya kaya digigit semut", papa gaul masa kini ini memilih untuk jujur kepada anaknya, tentang sakit yg bakal dirasakan ketika sampel darahnya diambil.
  • Simpel memang, tapi saya yakin, membodohi anak itu bukan cara mendidik anak yg baik kan?
I told my parents what my dreams really are. And they said that i’m joking..
Kita yang sekarang adalah akumulasi dari bahagia dan luka pada masa lalu.

Dulu sewaktu di balikpapan, saya pernah kena tilang, pak polisi yang menilang namanya mas yunusa. Ditilang tapi tak jadi bayar apa2 karena saya bantu betulkan progamnya saat mau masukkan nama saya ke database tilang. Kami malah tukar nomer telefon, menjadi kawan.

Dalam obrolan kami kemarin sore, ia berkata. Dua hal yg menyebabkan kecelakaan lalu lintas. Keraguan dan kebodohan. Perpaduan keduanya kerap membawa maut.

Dalam obrolan itu, setengah saya melamun. Dua hal itu ternyata tak hanya membawa maut di jalan raya saja. Tapi di jalan kehidupan.

Dua hal itu, yang membawa pada suatu hal paling gelap di semesta. Penyesalan.

Yang harus kita sadari adalah, Untuk melawan kebodohan, kita harus belajar, berdiskusi. Untuk melawan keraguan, kita harus saling bercerita, berusaha percaya.

Jadi wajar ketika saya lebih suka kau tampar daripada kau diamkan. Jangan saya didiamkan.

Karena dalam diam, berjuta persepsi tumbuh, baik buruk bertumbuk. Satu padu tak berwujud. Karena dalam diam, seperti ditinggalkan dalam luar angkasa yang gelap. Tak ada yang bisa dilihat, tak ada yg bisa di dengar.

Teman sekawan perjalanan dulu pernah bilang, “Kita berjalan tak karuan bukan mencari apa yang hilang, tapi menjauh sejenak dari apa yang bakal kita rindukan.”

Teman sekawan perjalanan dulu pernah saya yakinkan, “Bahwa berpergian jauh paling menyenangkan bukan saat sampai ke tujuan, tapi saat tiba waktunya untuk pulang.”

Ketika kita ingin pergi jauh menghilang ke tempat yang tak bisa ditemukan, jelas sebenarnya kita hanya ingin ditemukan.

Maka, sebut saja kita pecandu. Pecandu rindu.

"Bagaimana saya bisa pergi darimu, Jika duniaku ada di sekelilingmu?",kata seseorang pada bintang-bintang.

Kata teman saya, azis..

Terkadang kita membuat suatu kesalahan, terkadang kita adalah kesalahan itu sendiri.
Yang tak ingin dikenang, apalagi diulang.
Ada kata yang tak akan disampaikan karena jelas bakal tidak terdengar sopan.
Raimu cuk
kita bisa berhenti menyakiti dengan belajar saling memahami, atau kita bisa saling benci dengan mencari-cari berapa banyak luka yang tertinggal di hati
benci (via kekasihsenja)
  • X : kamu bakal kehilangan setiap orang yang kamu sakiti kalau caramu seperti ini..
  • Y : seperti ini gimana?
  • X : memasrahkan semuanya kepada waktu dan do'a
Carilah yang tersisa, biarkan saja yang hilang..
Irung
Bagaimana bisa pergi, jika duniaku ada di sekelilingmu?
Kata seseorang pada rembulan